Celebrating 100th Friend

Posting iseng untuk memperingati 100 teman di FS ku.
Setelah bergabung bersama Friendster sejak Januari 2005, hari ini teman yang telah manjadi temanku di friendster mencapai 100 profil.
Dan yang menjadi teman ke-100 adalah Rika.
Sejak awal ikut friendster sebenarnya gak punya tujuan apa. Dasar memang suka mencoba hal-hal baru, apalagi yang berkaitan dengan dunia internet, awalnya masukin profile di FS juga sekedar iseng.
Nambah teman2 juga malas, kalo pun sempat ngundang2 teman buat join di FS, mungkin pas mood iseng lagi kambuh.
Eh ternyata bisa mencapai 100 orang.
Not much. But you’re all inspiring…. To keep my friendster alive…

Good luck bro and sis. Happy friendstering…..

Kalpataru ditengah Rusaknya Hutan Lindung dan Alam Kintamani

Beberapa waktu yang lalu, warga masyarakat Desa Buahan Kecamatan Kintamani, salah satu desa yang bertetangga dengan desaku mendapatkan penghargaan tertinggi di bidang pelestarian lingkungan hidup, Kalpataru. Antusiasme masyarakat Buahan nampak dari semangat mereka mengarak trofi Kalpataru sepanjang perjalanan dari Bangli menuju Desa Buahan. Kebanggaan terpancar dari wajah-wajah polos mereka. Guratan-guratan ketuaan di wajah bapak-bapak itu laksana lenyap tatkala mereka merasakan kegembiraan dan kebanggan mengarak trofi Kalpataru itu.

Wajarlah jika mereka berbangga diri. Penghargaan itu diserahkan langsung oleh Presiden SBY kepada salah seorang perwakilan warga Buahan. Dan, prestasi itu merupakan prestasi yang jarang bisa didapatkan oleh sebuah kelompok masyarakat. Mereka dianggap mampu melestarikan hutan lindung yang berada di sekeliling desa Buahan. 

Desa Buahan merupakan salah satu desa yang masuk ke dalam wilayah Bintang Danu Berada di antara Desa Kedisan dan Abang. Berada di sebelah selatan Danau Batur, di bawah tebing pinggiran kaldera Batur sebelah selatan. Tebing ini ditumbuhi beraneka jenis tanaman tropis yang cukup lebat. Mungkin karena mampu mempertahankan kelestarian hutan lindung di sebelah selatan dan barat desa inilah yang akhirnya mengantarkan masyarakat Desa Buahan mendapatkan penghargaan ini.

Jika Desa Buahan mampu membuat saya ikut merasa bangga sebagai warga Kintamani, tidak demikian halnya dengan Desa-desa lain yang juga masuk kawasan Bintang Danu. Di Batur misalnya, daerah sekitar Pura Jati yang harusnya menjadi bagian dari hutan lindung Gunung Batur kini bopeng, karena maraknya galian C dan banyaknya bangunan darurat yang dibuat masyarakat disana guna keperluan menginap hanya untuk beberapa hari ketika ada piodalan di Pura Jati.

Demikian pula di Songan, tidak jauh berbeda. Di Banjar Tabu, sebuah sekolah hampir nyemplung ke dasar tanah. Pinggiran sekolah sudah dikeruk habis oleh masyarakat untuk digali pasirnya. Akibatnya, sebuah sekolah menjadi korban. Toh masyarakat cuek saja. Asal masih bisa gali pasir, dan menghasilkan uang, peduli amat. Sekolah urusan pemerintah………….. Begitu sering saya dengar… Menyedihkan.

Di Trunyan, sama saja. Hutan di areal Gunung Abang tiap tahun terbakar. Entah kebakaran itu disengaja, atau tidak. Yang jelas kebakaran itu bukan saja menimbulkan dampak bagi kawasan Gunung Abang saja, tapi meluas sampai ke daerah-daerah sekitarnya. 

Sebagian besar memang alam Kintamani, yang konon dulu merupakan kawasan wisata kaldera terindah di dunia sudah dikorbankan untuk keserakahan manusia. Semuanya memang atas nama materi. Ketika perut sudah menununtut isi, siapa yang akan peduli terhadap masalah yang akan timbul 50 tahun lagi?

Kebijakan pemerintah terkadang terasa aneh. Ketika alam sudah rusak parah, yang terjadi bukannya reboisasi atau upaya pembenahan, malah di sekitar Pura Jati, tanah hutan terkesan dibagi-bagi. Hutan yang harusnya menjadi penyangga kelestarian ekosistem kini beralih fungsi mnenjadi lahan pertanian. 

Setiap kali pulang kampung, saya melihat semakin berkurang pohon-pohon tinggi itu, karang-karang sisa letusan itu yang dulu menjulang memberi pemandangan yang khas daerah pegunungan kini telah menjadi bagian dari tembok-tembok rumah.

Apakah ketika nanti saya punya anak dan saya ajak pulang ke Kintamani, akankah masih mendapatkan pemandangan yang indah itu???

Kalpataru, semoga bukan cuma penghargaan dan trofi cantik. Kintamani perlu perubahan. 

 

 

 

Empat Hari Menjelajah Bali (Hari Pertama)

Ini kali pertama saya melakukan perjalanan selama empat hari penuh dan benar-benar menempatkan posisi saya sebagai seorang wisatawan atau turis. Meski saya sebenarnya bertindak sebagai pemandu wisata saat itu, tapi saya ingin larut dengan suasana tamu saya. Sebelumnya, jika saya melakukan perjalanan di seluruh Bali, saya selalu berperan sebagai pemandu wisata. Jadi tidak menikmati perjalanan sebagai mana layaknya seorang wisatawan.

Dan ternyata, mejelajahi Bali memang tidak ada habisnya. Waktu empat hari memang terlalu pendek untuk bisa menjelajah tempat-tempat terbaik dan atraksi-atraksi wisata terhebat di Pulau Dewata.

OK, kita mulai saja perjalanan kita.

Hari Pertama

Tari Barong di Batubulan
Berawal dari mejmeput tamu saya di sebuah hotel bintang lima di Kuta sekitar jam 9 pagi, kami memulai perjalanan di hari pertama untuk mengujungi pertunjukan tari barong di daerah Batubulan, berada di antara perbatasan Kota Denpasar dan Kabupaten Gainyar.

Tari barong sebenarnya merupakan tarian yang disakralkan oleh masyarakat Hindu Bali. Tari barong merupakan salah satu tari “Bebalian”, yaitu tari pelengkap upacara keagamaan Hindu di Bali. Sedangkan tari yang memang dikhususkan sebagai sarana hiburan disebut dengan tari “Bebalihan atau Bali-balihan”.

Tari barong mengisahkan peperangan yang terjadi antara barong melawan rangda. Barong merupakan simbol dari kebaikan sedangkan Rangda merupakan simbol dari kejahatan. Secara simbolik tarian ini menggambarkan peperangan antara kebenaran/kebaikan melawan kejahatan, dimana akhirnya pihak kebaikan yang menang.

Barong Ket atau Barong Keket adalah tari Barong yang paling banyak terdapat di Bali dan paling sering dipentaskan serta memiliki pebendaharaan gerak tari yang lengkap. Dari wujudnya, Barong Ket ini merupakan perpaduan antara singa, macan, sapi atau boma. Badan Barong ini dihiasi dengan ukiran-ukiran dibuat dari kulit, ditempel kaca cermin yang berkilauan dan bulunya dibuat dari perasok (serat dari daun sejenis tanaman mirip pandan), ijuk atau ada pula dari bulu burung gagak.

Untuk menarikannya Barong ini diusung oleh dua orang penari yang disebut Juru Saluk / Juru Bapang, satu penari di bagian kepala dan yang lainnya di bagian pantat dan ekornya. Tari Barong Keket ini melukiskan tentang pertarungan kebajikan (dharma) dan keburukan (adharma) yang merupakan paduan yang selalu berlawanan (rwa bhineda). Tari Barong Ket diiringi dengan gamelan Semar Pagulingan.

Sementara, saya tidak akan utarakan urutan tariannya di sini, karena terlalu panjang. Lain waktu akan saya bahas mengenai runtutan dari tari barong ini.

Batik Artshop
Perjalanan berlanjut mengunjungi artshop batik juga masih di daerah Batubulan. Di sini kita melihat bagaimana proses pembuatan batik, dari mulai menenun kain, melukis pola batik, menggambar batik dengan tinta khusus, sampai proses penyelesaian akhir hingga menghasilkan kain batik dengan beraneka corak dan warna. Juga dapat membeli beraneka ragam pakaian dan aksesoris berbahan dasar batik di sini.

Kerajinan Emas & Perak Celuk
Dari kerajinan batik perjalanan kami berlanjut untuk melihat kerajinan emas dan perak yang berada di daerah Celuk, cuma sekitar 10 menit ditempuh dari pusat kerajinan batik tadi. Seperti halnya kerajinan batik tadi, disini juga dapat dijumpai bagaimana proses peleburan perak menjadi perhiasan yang memukau. Dan tentu belum lengkap jika belum membeli beberapa oleh-oleh sebagai kenang-kenangan disini.

Akhirnya setelah beberapa saat tulisan ini, kembali saya berniat menyambungnya. Juga atas permintaan beberapa teman, akhirnya malam ini saya coba merangkum yang masih tersisa di memori otak ini.

OK, kita lanjut. Setalah mengujungi pusat kerajinan emas dan perak di Celuk, perjalanan kami lanjutkan ke Goa Gajah, sebuah tempat berupa gua tua yang di pintu masuknya terdapat ukiran-ukiran khas Bali dan juga terdapat pura disana. Informasi tentang Goa Gajah dapat dibaca disini

Pindah Rumah…..

Maksudnya bukan pindah rumah beneran…
Tapi, blogku yang disini nih pindah ke http://bali.ikads.com
Love to sharing my thoughts there. See you there.
Pintu terbuka untuk pengujung.
Mari.. yuksss… mari

Pilah-pilah Pilih-pilih Statistik untuk Blog Anda

Setalah berkelana dan berkenalan dengan berbagai web statistik dan analisis untuk beberapa website dan blog saya, akhirnya pilihan jatuh pada Woopra, sebuah aplikasi web statistik (website tracking & analytics) yang meski masih dalam tahap beta version, namun mampu menawarkan berbagai kelebihan yang tidak ditawarkan oleh web tracker lain.

Woopra

Secara umum memang fasilitas yang ditawarkan sama dengan web tracker lainnya. Seperti jumlah pengujung website, keyword analisis, dan sebagainya. Yang membedakannya dan membuatnya unggul dari web tracker lainnya seperti:

Real Time Analytics
Anda bisa mengawasi dan memonitor dari mana saja dan berapa orang yang sedang melihat2-lihat blog Anda. Dari mana datangnya, menggunakan kewyord apa, sedang membuka halaman yang mana, semuanya tersaji dalam satu interface yang cukup menarik

Stand Alone Application
Tidak seperti kebanyakan web tracker yang lain, dimana setiap kali hendak melihat statistik website harus membuka website terlebih dahulu kemudian login untuk mengaksesnya. Dengan woopra, Anda bisa download softwarenya, install dan jadilah stand alone application, tanpa anda harus membuka browser dan login setiap anda akan melihat perkembangan wesite Anda.

Click to Chat
Ini yang paling saya suka. Ketika Woopra mendeteksi ada pengunjung yang masuk ke blog Anda, anda bisa langsung mengundangnya untuk chatting.

Wordpress Plugin
Kesulitan menginstallnya? Tidak lagi, karena Woopra menyediakan plugin untuk wordpress. Tinggal download, upload ke directori plugin blog anda, aktifkan, dan anda bisa segera melakukan tracking.

Multiple Website
Tidak perlu banyak account untuk banyak website. Cukup satu account dan anda bisa melakukan tracking berapa pun website yang anda mau

Gratis
Siapa sih yang nggak mau gratis???

Sedangkan yang lain saya lihat masih sama dengan website tracker pada umumnya. Untuk menjajalnya Anda bisa langsung register di websitenya.

Beberapa pilihan website tracker yang mungkin bisa Anda coba juga:

1. Google Analitics

2. StatCounter

3. Get Clicky

4. Extreme Tracking

5. Dan masih banyak lagi. Coba Googling

Dan Anak Kembar Itu pun Menjadi Dewa

Melahirkan anak kembar mungkin sudah menjadi berita biasa bagi sebagian besar masyarakat. Tapi lain halnya dengan di Bali, dan lebih khusus di desaku. Ada satu tradisi unik di desaku yang mungkin di tempat lain tidak ada. Melahirkan anak kembar di Desa Songan dianggap sebagai suatu berkah bagi masyarakat disana.

Jika dulu ketika masa-masa feodal masih kuat pengaruhnya di Bali, bisa jadi melahirkan anak kembar menjadi suatu bencana bagi keluarga yang mempunyai anak kembar itu. Apalagi sampai yang dilahirkan adalah anak kembar buncing (satu laki, satu perempuan), bisa-bisa si bapak dan si ibu beserta bayinya diungsikan, karena melahirkan anak kembar dianggap suatu aib.

Dulu ketika sebuah keluarga biasa melahirkan anak kembar buncing dianggao merupakan suatu aib bagi desa dimana keluarga itu tinggal. Sedangkan jika anak kembar lahir di keluarga puri atau kerajaan, penafsirannya lantas berbeda. Si anak kembar dianggap memang berjodoh sejak lahir dan biasanya dibesarkan di tempat yang terpisah, hingga ketika remaja nanti dipertemukan kembali sebagai pasangan suami istri dan akan mendapat tempat yang sangat terhormat di lingkungan keluarga kerajaan.

Mungkin atas dasar itulah, kemudian jika ada warga masyarakat biasa melahirkan anak kembar dianggap menyaingi keluarga kerajaan, sehingga layaklah warga yang melahirkan anak kembar buncing tadi mendapat hukuman dari sang raja. Lantas hukuman pengungsian dijatuhkan kepada si warga tadi. Biasanya warga yang melahirkan anak kembar dibuatkan tenda darurat yang biasanya berlokasi di tempat terpencil, kadang ada yang berlokasi di dekat kuburan desa dan tidak seorang pun boleh menjenguknya.

Mungkin setiap desa adat di Bali mempunyai cara yang berbeda dalam memperlakukan masyarakat yang melahirkan kembar.

Kembali ke desaku, saya masih ingat pada tahun 80-an tradisi “membuang” atau mengungsikan warga yang melahirkan anak kembar masih terjadi. Namun belakangan tradisi itu sudah tidak ada lagi. Mungkin tokoh-tokoh masyarakat di Songan sudah mempunyai awig yang baru mengenai hal ini, atau mungkin juga merujuk kepada peraturan perundang-undangan yang telah ada seperti : Bhisama PHDI tahun 1971 dan Peraturan Daerah Bali Nomor 3 Tahun 2002. Semuanya berintikan mengimbau kepada komunitas adat, terutama jajaran prajuru (pengurus desa adat), supaya menyesuaikan awig-awig-nya dengan hukum agama dan hukum yang berlaku.

Tapi di sisi lain ada keunikan lain yang berkaitan dengan melahirkan anak kembar ini. Jika di tempat lain di Bali dianggap sebagai suatu aib, di tempatku justru dianggap suatu berkah. Anak kembar dianggap sebagai dewa, dibuatkan pelinggih layaknya sebuah sanggah. (Kemarin, di lingkungan keluargaku habis ngeteg linggih pelinggih dewa kembar ini, dan menhgabiskan sekitar 40 juta untuk bangunannya saja.) Si kembar kemudian dipanggil dengan sebutan jero. Jika anak yang dilahirkan keduanya laki-laki, maka yang lahir duluan akan dipanggil Jero Ageng atau Jero Agung sedangkan yang lahir belakangan akan dipanggil Jero Alit. Sedangkan jika lahir laki-perempuan, yang laki dipanggil Jero Lanang dan yang perempuan dipanggil Jero Istri.

Setiap enam bulanan Bali (satu bulan Bali berumur 35 hari kalender), di kembar dibuatkan upacara yang bisa dibilang cukup besar. Tapi biasanya upacara ini ditanggung oleh “penyungsungnya” yaitu semua orang yang ikut urunan untuk merayakan ultah Bali si kembar ini. Yang menjadi penyungsung bukan hanya ayah dan ibu dari si kembar, tapi kadangkala meluas sampai ke semua kerabat dekat dari keluarga si kembar, bisa sampai misan, mindon bahkan lebih jauh lagi.

Upacara ini berlangsung terus, bahkan hingga si kembar telah meninggal dunia upcara masih terus dilangsungkan tiap bulan. Jika tidak, dianggap arwah si kembar yang dianggap dewa bisa memberi kutukan yang bisa menyengsarakan garis keturunan dan keluarga terdekatnya.

Saya masih belum paham betul, mengapa tradisi ini bisa terjadi. Kadang perasaan menjadi bercampur antara percaya dan tidak percaya, jadi ngikut saja, selama itu masih bukan sebuah beban bagi saya. Sayangnya saya tidak pernah melakukan penelitian mendalam tentang tradisi ini.

Mungkin suatu saat….

Jangan Percaya SMS Santet Itu….

Mungkin tulisan ini sudah basi. Tapi semoga saja bisa membantu masyarakat yang kebetulan nyasar ke sini untuk mencari info SMS santet!!

Ada-ada saja ulah orang-orang jahil untuk menakuti masyarakat. Meski ada beberapa “pakar” yang kemudian menjadi “top” oleh SMS Santet itu. Emang pintar sang “pakar” memanfaatkan media yah?

Kembali ke masalah SMS santet tadi, tulisan ini bukan berupaya membantu penyebaran informasi SMS santet tadi.
Read more »

Desa Adat Pengelipuran, Mempertahankan Tradisi ditengah Ambisi Globalisasi

Pengelipuran hanyalah sebuah desa kecil di pinggiran kota sejuk, Bangli, Bali sekitar 40 km dari kota Denpasar. Secara dinas Desa Pekraman Pengelipuran termasuk Kelurahan Kubu. Dihuni sekitar 200 kepala keluarga yang menempati sekitar 76 rumah keluarga atau satu rumah ditinggali sekitar 3 kepala keluarga. Kebanyakan dari mereka adalah petani. Meski sekarang sudah mulai ada yang menjadi pegawai negeri atau bekerja di sector pariwisata lainnya.

Pengelipuran adalah salah satu desa tradisional atau desa tua di Bali atau sering disebut Bali Aga atau Bali Mula. Merupakan salah satu tujuan wisata yang dipromosikan oleh Pemkab Bangli.

Tapi di desa kecil ini tradisi begitu kukuh dipegang oleh masyarakatnya. Terutama yang berkaitan dengan penataan pekarangan rumah. Di tengah gempuran arus modernisasi, keteguhan masyarakat Pengelipuran tampak dari rapinya penataan kawasan hunian masyarakat setempat. Memasuki desa pengelipuran laksana memasuki sebuah taman yang dibentuk dengan arsitektur maha sempurna. Jejeran rumah di sepanjang jalan berdiri rapi dengan pintu gerbang yang hampir seragam di setiap rumah. Rumah-rumah ini dibelah oleh sebuah jalan besar yang dipaping di bagian tengah dan ditamani rerumputan di pinggir kiri kanannya.

Read more »

Di, Kamu Ultah 3 Kali Setahun Dong?

Wow, berarti kamu ultah 3 kali dalam setahun dong? Kira-kira sejenis itu ungkapan yang biasa saya terima dari rekan-rekan kerja yang terutama berasal dari luar Bali. Ungkapan di atas muncul ketika biasanya saya permisi pulang lebih dahulu dari kantor karena harus pulang lebih awal untuk otonan. Otonan adalah ritual ulang tahun masyarakat Bali*) yang datang setiap 6 bulan sekali.

Read more »

Warung Babi Guling Men Suka

Kalo tidak membawa bekal ke kantor biasanya saya makan siang di Tiara Food Court. Selain pilihan menunya banyak, harga yang murah juga menjadi pertimbangan. Kalau lagi bosan makan di Tiara, biasanya nyari warung terdekat dari kantor, namanya Warung Babi Guling Men Suka. Menunya, ya tentu saja nasi plus babi guling. Tidak ada menu lainnya. Tempatnya tidak besar, karyawannya tidak banyak, belum pakai PDA untuk melayani order tamu. Toh, orang yang makan disana selalu banyak. Bahkan banyak pula wisatawan (mungkin Jepang atau Korea) atau turis lokal yang sedang berwisata di Bali yang makan disana.
Read more »

Next Page »