Melihat perkembangan perpartaian di Indonesia, nampaknya menggugah semangat beberapa politikus Hindu untuk mendirikan partai. Namanya PARTAI KEBANGKITAN DHARMA INDONESIA. Sudah pada mendengar partai baru ini? Partai ini didirikan Drs. Ngurah Arya Ps, MComm (Hons), Phd.D, Ak, seorang lulusan UGM putra Bali yang mempunyai beberapa sekolah dan universitas.
Menurut Ida Pedanda Sebali Tianyar Arimbawa, Ketua Dharma Adyaksa Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat sepantasnya PHDI sebagai lembaga tertinggi umat Hindu dan masyarakat Hindu memberikan dukungan dan merestui berdirinya partai ini.
Memang, politik seolah menjadi kebutuhan dasar terutama bagi warga negara yang menginginkan kekuasaan. Sedangkan bagi masyarakat biasa, apa partai politik punya arti yang seistimewa para pemimpi kekuasaan?
Partai politik tidak bisa dilepaskan dari kekuasaan. Seorang penguasa harusnya merupakan jelmaan dari keinginan mayoritas masyarakat pendukungnya. Dalam Hindu, seorang pemimpin atau penguasa hendaknya berjalan dalam koridor Asta Brata. Asta berarti delapan dan Brata bisa diartikan sebagai sifat mulia dari alam semesta.
Kedelapan koridor kepemimpinan Hindu itu adalah:
1. INDRA BRATA, yaitu seorang pemimpin hendaknya memiliki sifat seperti hujan yaitu senantiasa mengusahakan kemakmuran bagi rakyatnya dan dalam setiap tindakannya dapat membawa kesejukan dan penuh kewibawaan.
2. YAMA BRATA, Seorang pemimpin hendaknya meneladani sifat-sifat Dewa Yama, yaitu berani menegakkan keadilan menurut hukum atau peraturan yang berlaku demi mengayomi masyarakat.
3. SURYA BRATA, pemimpin hendaknya memiliki sifat-sifat seperti Matahari (Surya) yang mampu memberikan semangat dan kekuatan pada kehidupan yang penuh dinamika dan sebagai sumber energi.
4. CANDRA BRATA, Yaitu seorang pemimpin hendaknya memiliki sifat-sifat seperti Bulan (Candra) yang mampu memberikan penerangan bagi rakyatnya yang berada dalam kegelapan/kebodohan, dengan menampilkan wajah yang penuh kesejukan dan penuh simpati sehingga masyarakatnya merasa tentram dan hidup dengan nyaman.
5. WAYU BRATA (Maruta), yang berarti angin. Seorang pemimpin hendaknya ibarat angin, senantiasa berada di tengah-tengah masyarakatnya, memberikan kesegaran dan selalu turun ke masyarakat untuk melihat bagaimana kehidupan masyarakat yang dipimpinnya.
6. BHUMI BRATA. Seorang pemimpin hendaknya memiliki sifat utama dari bumi yaitu teguh dan kuat sebagai landasan berpijak dan memberikan kesejahteraan kepada masyarakatnya.
7. WARUNA BRATA, seorang pemimpin hendaknya bersifat seperti samudra yaitu memiliki wawasan yang luas, mampu mengatasi setiap gejolak (riak) dengan baik, penuh kearifan dan kebijaksanaan.
8. AGNI BRATA, Pemimpin hendaknya memiliki sifat mulia dari api yaitu mendorong/ memberi semangat kepada masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembangunan, tetap teguh dan tegak dalam prinsip dan menindak dengan tegas yang bersalah tanpa pilih kasih serta mambrantas/menghanguskan semua yang menjadi musuh pemerintah baik yang datangnya dari luar maupun dari dalam negeri itu sendiri.
Jika seorang pemimpin Hindu bisa menempatkan Asta Brata itu sebagai landasan berpolitiknya, sepertinya bisa diterima eksistensi partai yang bernuansa Hindu ini. Namun, jika partai ini tidak berbeda dengan partai-partai lainnya, hanya memberikan janji-janji kosong menjelang pemilu, apa masih pantas ada partai baru. Entah partai yang bernuansa agama atau nuansa lainnya.
Pada kenyataannya, kebanyakan partai merupakan jelmaan dari nafsu berkuasa para politikus haus kekuasaan. Boleh-boleh saja para pendiri partai mengklaim akan kesejahteraan masyarakat tapi setelah pemilu, janji itu hendaknya masih tetap dipegang.
Kita lihat saja, bagaimana kiprahnya partai-partai baru ini. Kalau masih sama, mending jangan ada partai-partaian lagi. Mungkin dunia lebih indah tanpa partai. Kecuali partai ini memang mampu memberikan nuansa demokrasi bagi seluruh lapisan masyarakat.