Kantorku di Mana-mana
Beberapa hari yang lalu saya sempat melakukan diskusi dengan beberapa teman terkait pekerjaan. Mereka rata-rata heran melihat cara bekerjaku. Berangkat jam 8 pagi datang jam 5 sore merupakan kebiasaan sehari-hari yang tidak bisa mereka rubah. Merubahnya berarti mempertaruhkan pekerjaannya. Sementara aku bisa berangkat ke kantor jam 10 atau jam 11. Atau bahkan tidak perlu ke kantor. Biasanya timbul pertanyaan, kerjaanmu apa, Di?
Saya biasanya bilang, saya bekerja sama seperti kamu, cuma bedanya kamu harus datang ke kantor, saya bisa kerja dari rumah. Kenapa saya bisa kerja dari rumah? Karena kantor saya memang ada dimana-mana. Asalkan ada jaringan selular atau kabel untuk colokan TelkomNet atau host spot dan aku membawa laptopku yang sudah usang, disanalah kantorku.
Comments(23)
Ah, tajen yang dulu dilarang dan begitu gencarnya dibasmi. Kini menjadi komoditas politik. Memang ketika nafsu kuasa sudah merasuk, hati nurani memang bisa tergadai. Apa yang terucap kan bisa ditarik kembali. Apalagi hanya sebuah tajen
