Jangan Baca Berita Dengan Tanda Baca Bintang (*)

Gerakan ini didedikasikan untuk pembaca surat kabar yang telah dibodohi karena membaca tulisan pesanan. Perhatikan tiap berita yang mencoba memanipulasi pembaca dengan menyertakan tanda bintang (*) di akhir artikel.
Makin banyak media yang berani menurunkan berita pesanan (yang bisa dibeli) tanpa memberi tanda bahwa itu advetorial atau berita iklan. Bahkan, berita itu tidak biberi garis api-tanda tegas untuk membedakan iklan dan berita.
Tragisnya lagi, berita tanda bintang makin merajalela, tak lagi malu-malu. Berita iklan kini di halaman depan alias headline!
Maka dari iru, demi manusia yang makin tengik, bumi yang makin terbakar dengan gombal dan narsis yang tak beradab, sudahilah membaca artikel tanda bintang. Kalau perlu, jangan beli korannya.
Selengkapnya di : http://lodegen.wordpress.com/2008/04/01/jangan-baca-berita-tanda-bintang/
Comments(8)
Ah, tajen yang dulu dilarang dan begitu gencarnya dibasmi. Kini menjadi komoditas politik. Memang ketika nafsu kuasa sudah merasuk, hati nurani memang bisa tergadai. Apa yang terucap kan bisa ditarik kembali. Apalagi hanya sebuah tajen
